Marak PHK Akibat Banyaknya Pabrik Tutup di Jabar, ini Kata Ade Ginanjar
| Wakil Ketua DPRD Jawa Barat Ade Ginanjar |
Bandung, Tanganmedia.com - Wakil Ketua DPRD Jawa Barat (Jabar) Ade Ginanjar mengaku tidak terlalu mempermasalahkan banyaknya pabrik yang tutup di Jabar dan memindahkan operasinya di Jawa Tengah maupun Jawa Timur.
Adapun penutupan pabrik itu disinyalir karena biaya produksi lebih tinggi di Jabar dan pemindahan pabrik turut memicu pemutusan hubungan kerja (PHK).
"Setiap perusahaan memiliki hitung-hitungan operasional sendiri, kalau dia pindah dari Jabar ke Jawa Tengah, Jawa Timur, saya kira itu hak mereka, tentunya ada alasan tersendiri," katanya, Kamis (9/5/24).
Ade menyampaikan, perusahaan-perusahaan tersebut kemungkinan punya sejumlah masalah yang perlu diatasi sehingga harus memindahkan operasional.
"Salah satunya, mungkin karena ketersediaan sumber daya manusia (SDM), masalah UMR dan lainnya, meski demikian, DPRD Jabar berharap agar pemindahan pabrik tersebut dapat dipertimbangkan kembali," ujar Ade Ginanjar.
Sebelumnya, Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) mencatat sebanyak 2.650 pekerja yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) selama periode Januari sampai Maret 2024.
"Rinciannya, 306 pekerja di Januari, 654 pekerja di Februari, dan 1.690 pekerja di Maret 2024," urainya.
Maraknya PHK di Jabar terjadi di industri tekstil dan garmen lantaran pengusaha memutuskan untuk menutup pabriknya, penutupan pabrik terjadi lantaran biaya tenaga kerja lebih tinggi di Jabar.
"Pengusaha memiliki pertimbangan ekonomi, PHK dilakukan karena industri yang berorientasi di ekspor terdampak rendahnya permintaan (demand) pasar global lantaran situasi geopolitik," ungkap Ade.
Kondisi tersebut juga dialami industri padat karya seperti garmen dan alas kaki, karena industri tersebut harus bersaing dengan produk impor ilegal, kesulitan mendapatkan bahan baku impor dan kenaikan biaya usaha membuat pengusaha melakukan efisiensi.
"Efisiensi tersebut dengan mengurangi jumlah karyawan, selain itu kesulitan dalam memperoleh bahan baku/penolong impor," jelasnya.
"Kenaikan cost of doing business membuat industri-industri ini semakin terdesak untuk meningkatkan efisiensi produksi agar bisa tetap eksis di pasar, salah satunya dengan pengurangan karyawan," pungkasnya.***


Posting Komentar